Monthly Archives: October 2020

Jejak Zizou di La Castellane

Jejak Zizou di La Castellane

MANU Daher sesaat mengerutkan kening, lalu tertawa geli. ”Anda ingin memotret bekas rumah Zinedine Zidane?” katanya kepada Tempo, akhir Mei lalu. Pria yang bekerja sebagai koordinator pusat olahraga Sportif di La Castellane, Marseille, Prancis, itu kemudian mengajak ke luar gedung dan menunjuk lurus ke arah kanan. ”Lihat itu, mereka sedang menghancurkannya.” Telunjuknya mengarah ke dua buldoser yang bertengger di atas reruntuhan gedung. Para pekerja tampak sibuk meremukkan sisa-sisa beton yang membandel. Gedung G atau yang kerap dijuluki Gedung Zidane dirobohkan mulai 10 Mei lalu. Penghancuran gedung yang dibangun pada 1971 itu merupakan bagian dari proyek peremajaan kota.

Setelah pada Gedung G, penghancuran akan dilakukan pada Menara K, yang dihuni 97 keluarga. Selain untuk menyediakan perumahan yang lebih layak, peremajaan dilakukan buat membuka akses agar memudahkan polisi mengatasi peredaran obat terlarang, yang merajalela di daerah itu. Penghancuran rumah masa kecilnya itu terjadi ketika Zidane bersiap menghadapi laga besar. Di Stadion San Siro, Milan, Italia, 18 hari setelah rumah masa kecilnya dirontokkan, Zidane memimpin tim asuhannya, Real Madrid, menjalani partai final Liga Champions Eropa melawan tim Spanyol lainnya, Atletico Madrid. Pelatih 43 tahun itu kemudian bisa menyaksikan timnya, yang sempat ditahan lawan 1-1 hingga babak perpanjangan waktu, menjadi juara setelah menang adu penalti 5-3. Zidane, yang baru menggantikan Rafael Benitez pada Januari lalu, tampak berseri-seri saat mengangkat trofi. ”

Memenangi Liga Champions adalah yang terbaik, serupa dengan keberhasilan menjadi juara dunia,” kata pria yang ikut mengantar tim nasional Prancis menjuarai Piala Dunia 1998 itu, seperti dikutip The Guardian. ”Ini sangat spesial. Saya sangat bahagia memenangi trofi Liga Champions sebagai pemain, asisten pelatih, dan pelatih kepala.” Sebagai pemain, Zidane pernah mengantar Real Madrid menjadi juara kompetisi yang sama pada 2002. Pada 2014, ia juga ikut mengantar tim yang sama sebagai juara saat menjadi asisten Carlo Ancelotti. Kini ia menjadi pelatih Prancis pertama yang mampu merebut gelar bergengsi kompetisi Eropa itu, sekaligus orang ketujuh yang bisa meraih gelar tersebut sebagai pemain dan pelatih.

Simvastatin, yang Dikenal Sebagai Obat Kolesterol

Simvastatin, yang Dikenal Sebagai Obat Kolesterol

Disertasi ini mengantarkan Erwin menyabet gelar doktor pada April lalu. Simvastatin adalah salah satu jenis obat golongan statin. Obat golongan ini telah lama dikenal mampu menurunkan kadar kolesterol serta mencegah stroke dan penyakit jantung koroner. Studi yang dilakukan pada sel dan hewan sebelumnya menyebutkan simvastatin juga berguna menghambat migrasi sel tumor karena memiliki efek menghambat penjalaran dan pertumbuhan. Ada bermacam-macam jenis obat statin, seperti atorvastatin, rosuvastatin, fluvastatin, pitavastatin, dan pravastatin. Tapi, dari berbagai jenis statin tersebut, menurut Erwin, simvastatin-lah yang efek sampingnya lebih ringan, lebih murah, dan lebih gampang didapat.

Website : kota-bunga.net

Untuk menyebar ke bagian tubuh yang lain, sel kanker melakukan migrasi atau berpindah dan proliferasi atau tumbuh di tempat baru. Penyebaran ini sebelumnya didahului dengan pengiriman sinyal oleh sel kanker. Setelah sinyal diterima, sel akan bergerak dan tumbuh di tempat baru. Agar dapat bergerak ke tempat baru, sel kanker memerlukan mesin penggerak dan navigator. Mesin penggerak sel ini disebut aktin sitoskeleton, yang didapat dari perubahan enzim Rho dan Rho-associated kinase (ROCK). Dua enzim ini bertugas menyampaikan sinyal dari luar tadi ke dalam inti sel. Jika sinyal sudah sampai ke inti, sel akan menghasilkan protein yang bakal digunakan untuk menambah pembuluh darah, menyebar, dan tumbuh di tempat baru. Dengan modal itu, selnya jadi cepat membelah sehingga berkembang dan cepat bergerak ke tempat baru.

Karena mekanisme ini, produksi Rho dan ROCK perlu dihambat sehingga kemampuan sel kanker untuk bergerak juga berkurang. Menurut Erwin, simvastatin bisa menghambat aktivitas Rho dan ROCK tersebut. Jika enzim Rho dan ROCK ini dihambat, penyebaran kanker bisa dicegah. ”Mesin kankernya kita rusak sehingga tak bisa bergerak,” ujar Erwin. Dalam penelitian tersebut, Erwin memberikan simvastatin kepada sejumlah pasien kanker yang melakukan terapi di klinik bedah onkologi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Rumah Sakit Gatot Soebroto, Rumah Sakit Persahabatan, dan RSUD Koja, Jakarta, pada November 2014- Juli 2015. Ada 15 pasien yang diberi simvastatin dengan dosis 40 miligram. Sebagai pembanding, 15 pasien yang lain diberikan plasebo, sejenis obat palsu tanpa efek.