Gagal Paham Instruksi Sederhana

Di usia batita, kebanyakan anak sudah mampu memahami instruksi sederhana dan memberikan respons seperti yang diharapkan. Bagaimana jika tidak? “Dek, tolong tutup pintunya,” ujar Mira menunjuk pintu yang separuh terbuka. Andin pun melangkah mendekati pintu tersebut. Tetapi, alih-alih mendorongnya hingga tertutup, ia justru menarik daun pintu itu hingga terbuka lebar.

Baca juga : Beasiswa s2 Jerman

Lo, bagaimana, sih? Mira jadi bingung. Rasanya ia sudah memberikan instruksi yang sangat sederhana. Kok, Andin tidak paham, ya? Memang, para ahli sepakat jika di usia batita sebagian besar anak telah memahami instruksi sederhana, termasuk pada waktu orangtua mengatakan, “Jangan.” Namun, karena beberapa alasan, mungkin saja si kecil belum mampu melakukannya. KENALI BERBAGAI PENYEBAB Menurut psikolog Nurul Annisa, anak “gagal paham,” salah satu penyebabnya adalah orangtua sendiri. “Anak mendapatkan kesulitan, sebab orangtua memakai kalimat sulit atau tidak bisa dipahami dengan mudah.”

Contoh, Mama bicara terlalu cepat atau bicara kepada beberapa orang sekaligus, sehingga anak tidak paham bahwa ia yang diajak bicara. Ini juga bisa terjadi apabila orangtua tidak melakukan dengan kontak mata, sewaktu memberi instruksi sembari menelepon, umpamanya. Penyebab lain, cenderung bersifat medis. Misal, anak mendapatkan gangguan atau hambatan pada tumbuh kembangnya. Delila berbagi kisah merawat Ajo ketika usia batita. Menurut Delila, Ajo seperti tak memahami harus berbuat apa. Tetapi lama-lama Delila mencurigai telinganya bermasalah.

Ia pun membawa Ajo ke dokter. Ternyata pada telinga Ajo ada kotoran yang cukup padat dan bisa menghalangi pendengarannya. “Mungkin saya tak terlalu berani untuk membersihkan kotoran pada telinganya,” ujar Delila. Setelah dokter membantu membersihkan kotoran pada telinga si kecil, Delila mendapati Ajo cukup bisa memahami instruksi sederhana dari orang-orang yang sekitarnya.

MENOLAK “JANGAN” Cerita lain disampaikan Fitria, Mama dari Friska. Menurut Fitria, semakin dilarang, Friska justru semakin melakukan. “Contoh, dilarang: jangan lari-lari. Yang ada malah dia akan makin mempercepat jalannya jadi seperti berlari,” keluh Fitria. Hal ini memang kerap terjadi pada batita, demikian Nurul mengungkapkan. “sewaktu usia batita memang ada kencenderungan anak malah melakukan hal yang berkebalikan dari yang orangtua inginkan,” ujarnya. Oleh karena itu Nurul selalu mengajak orangtua untuk memakai kalimat positif daripada larangan.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *