Category Archives: Parenting

Tidak Boleh Dianggap Remeh

Sekali lagi, kedinginan atau hipotermia ini tidak dapat dipandang remeh sebab pada saat hipotermia akan terjadi penyempitan pembuluh darah dan meningkatkan kebutuhan oksigen. Inilah yang membuat hipotermia berbahaya. Saat bayi baru lahir sudah pulang ke rumah, Mama disarankan untuk mengukur suhu bayi setiap 3 jam sekali. Sebab, di mana pun, bayi dan anak-anak akan lebih rentan terkena serangan hipotermia dibandingkan orang dewasa.

Baca juga : Kursus Bahasa Jerman di Jakarta

Untuk mengurangi risiko hipotermia, Mama dianjurkan sering menyusui bayi. Kalau bayi tidak atau belum bisa mengisap puting susu, usahakan berikan ASI perah. Hangatkan kamar bayi dengan lampu sekitar 15–40 watt, taruh lampu sekitar 50 cm dari boks bayi dan pancarkan ke bayi. Jangan biarkan bayi tidur di ruangan yang suhunya terlalu dingin. Suhu aman AC untuk bayi adalah 26°C. Selalu selimuti bayi (terutama yang baru lahir) dan pakaikan topi untuk menutupi kepala dan telinganya. Pemakaian tutup kepala ini penting mengingat 25% panas hilang melalui kepala.

Jangan lupa memeriksa popok bayi. Kalau si kecil pipis, segera ganti popoknya. Tidak disarankan memakai popok sekali pakai, karena bila lupa diganti dalam waktu lama, dikhawatirkan popok akan terlalu basah dan membuat bayi kedinginan. Jangan lupa lakukan skin to skin contact. Tempelkan bayi ke dada Mama, suhu tubuh Mama yang hangat akan dialirkan pada bayi. Salah satu kegunaan memberikan ASI secara langsung pada bayi adalah memberi kesempatan Mama melakukan kontak kulit dengan bayi.

Mengenali hipotermia bisa dengan cara mencermati bayi. Pegang kaki dan tangannya, bila terasa dingin, bayi mungkin meng alami kedinginan, coba selimuti dia, gendong dan susui bayi. Bila bayi juga tampak malas minum/ berkurang minumnya, kurang aktif, wajah pucat, kebiruan, napasnya cepat atau berat, ukur suhu tubuhnya dengan termometer. Jika memang hipotermia segera bawa bayi ke dokter.

Sedangkan pada bayi baru lahir dengan risiko (keadaan umum bayi lemah atau bayi dengan berat badan lahir <2.500 g), memandikan akan ditunda beberapa hari sampai keadaan umum bayi membaik (bila suhu tubuh sudah stabil, bayi sudah lebih kuat, dan dapat mengisap ASI dengan baik).

Nikmatnya Mengatur Jarak Kehamilan Bag2

Eh.., ternyata hamil juga. Tentu terbayang kerepotan dan kasihan sama Kakak yang nanti kurang perhatian, aku senang dititipkan Tuhan anugerah yang luar biasa. Suamiku juga selalu menjaga anak-anak dan kandunganku dengan penuh perhatian. So… meski kondisinya ke sundulan, harus tetap bersyukur dan semangat untuk menyambut hadirnya si buah hati ketiga.”

 Membaca dua cerita Mama di atas, ternyata kesun dulan sering juga terjadi, ya. Kesundulan merupakan kata yang mengacu pada ibu yang baru saja melahir kan, eh… sudah hamil lagi. Yang dikhawatirkan pada kasus kesundulan adalah perasaan galau pada Mama karena tidak bisa mengurus dua batita dengan baik dan juga merasa bersalah pada si kakak kerap muncul tanpa bisa dihindari.

KB SEDERHANA

Selain menyusui, ada beberapa alternatif KB sederhana lain. Oh ya, yang dimaksud metode KB sederhana adalah semua metode KB yang tidak mengan dung hormon. Beberapa Mama menyusui memilih cara ber-KB ini karena dianggap tidak akan berpe ngaruh pada kualitas dan produksi ASI. Seperti yang dilakukan Mama Pandu Tedi, “Waktu melahirkan anak pertama, anakku umur 4 bulan, aku langsung ber-KB. Pakainya KB kalender dan tetap sukses sampai aku hamil anak kedua. Sekarang anak ke duaku sudah 9 bulan dan KB kalender aku teruskan. Alhamdulilah, tetap lancar. Aku juga sudah rutin haid. Aku termasuk yang beruntung sukses dengan KB kalender.”

Baca juga : Tes Toefl Jakarta

Kontrasepsi dengan menggunakan sistem kalender adalah berKB dengan tidak berhubungan intim ketika istri dalam masa subur. Meski Mama Pandu Tendi sukses menjalaninya, namun cara ini sebenarnya kurang dianjurkan karena terkadang istri keliru menghitung siklus haidnya. Jadi kemungkinan gagalnya cukup besar. Contoh lain KB sederhana diceritakan oleh Mama Setia Kurnia. “Aku takut disuntik, juga takut dipasangi IUD.

Jadi aku meminta suamiku memakai kondom untuk ber-KB. Untungnya suami setuju. Sekarang anakku berumur 16 bulan, pemakaian kondom masih lancar. Nanti kalau anakku dua tahun baru aku mau hamil lagi.” Mama Papa tentu tak asing lagi dengan kondom. Betul, alat kontrasepsi non-hormonal ini berbentuk kantung karet tipis, biasanya terbuat dari lateks. Kondom merupakan alat kontrasepsi yang mudah didapat di warung/supermarket dan gampang dilakukan.

Kelemahannya, bila penggunaannnya kurang tepat, kondom bisa bocor sehingga angka kegagalannya cukup besar. KB sederhana yang angka kegagalan cukup besar lainnya adalah sanggama terputus. Cara kontrasepsi ini adalah ketika suami mencapai puncak orgasme, sperma dikeluarkan di luar vagina. Namun, sekali lagi, cara ini juga terbilang sering gagal.

Masih Kurang Populer

Namun, pemakai alat ini biasanya mengeluh rasa panas pada vagina dan terlalu banyak cairan. Jadi, KB apa yang terbaik bagi Mama menyusui ? Terkait dengan kontrasepsi pascamelahirkan, WHO sebagai badan kesehatan dunia yang juga mengampanyekan pemberian ASI eksklusif untuk bayi, menyarankan agar Mama mulai menggunakan KB hormonal yang me ngandung progesteron pada 6 minggu pascamelahirkan . Penasaran tentang alat-alat KB tersebut? Silakan simak halaman berikutnya ya Ma!

Sumber : pascal-edu.com